Wakil Rektor Untag Surabaya – Harjo Seputro, S.T., M.T., dalam sambutannya menekankan pentingnya mahasiswa untuk tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga mengembangkan keterampilan kewirausahaan. “Dengan terjun langsung di dunia wirausaha, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja maupun dalam membangun usaha sendiri,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa program seperti P2MW merupakan kesempatan emas bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas dan inovasi dalam bidang bisnis.
Harjo juga mengapresiasi kinerja BKA Untag Surabaya yang dipimpin oleh Dosen Program Studi (Prodi) Arsitektur Untag Surabaya – Febby Rahmatullah Masruchin, S.T., M.T. Harjo menyebut bahwa berbagai pencapaian BKA, termasuk akreditasi unggul yang diraih, merupakan hasil dari kerja keras tim dalam membina mahasiswa serta mendorong partisipasi mereka dalam berbagai ajang kompetisi kewirausahaan. “Pencapaian ini tidak lepas dari sinergi yang baik antara mahasiswa, dosen pembimbing, serta program-program inovatif yang telah dijalankan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Harjo berharap workshop ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa Untag Surabaya untuk dapat bersaing di tingkat nasional. “Semoga melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mampu menyusun proposal yang berkualitas, tetapi juga dapat mengharumkan nama kampus di berbagai ajang bergengsi,” tambahnya.
Workshop ini menghadirkan Reviewer P2MW Kemdikbud sekaligus Professional Business Coach –Jacob Win, ACC., S.T., S.Kom., M.Kom., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Win menekankan pentingnya memahami format proposal sesuai buku pedoman P2MW agar dapat meningkatkan peluang lolos seleksi. “Kunci utama agar proposal kalian diterima adalah mengikuti format yang ditentukan dalam buku pedoman, disertai dengan rencana bisnis yang detail dan terstruktur,” jelasnya.
Selain aspek teknis, Win menyoroti pentingnya inovasi yang memiliki relevansi dan dampak terhadap permasalahan nyata di masyarakat. “Kreativitas saja tidak cukup, inovasi yang diajukan harus memiliki solusi konkret terhadap masalah yang ada di pasar atau lingkungan sosial. Kejelasan problem-solution fit menjadi aspek yang sangat diperhatikan dalam penilaian proposal,” tuturnya.
Win juga mengingatkan bahwa setiap kategori dalam P2MW memiliki fokus serta standar penilaian yang berbeda. Oleh karena itu, peserta harus memastikan bahwa produk atau usaha yang diajukan sesuai dengan kategori yang dipilih. “Kesalahan dalam menentukan kategori dapat berpengaruh besar terhadap penilaian dan peluang pendanaan. Pastikan kalian memahami setiap aspek sebelum mengajukan proposal,” imbuhnya.
Dengan adanya workshop ini, diharapkan mahasiswa Untag Surabaya dapat lebih siap dalam menyusun proposal yang kompetitif dan memenuhi standar seleksi P2MW. Kegiatan ini juga menjadi bukti komitmen Untag Surabaya dalam mendukung mahasiswa mengembangkan potensi kewirausahaan dan bersaing di tingkat nasional. (vs/rz)