Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar Lokakarya Tata Kelola Fakultas Kedokteran di Meeting Room Gedung R. Ing. Soekonjonolantai tiga. Kegiatan ini bertujuan memperkuat efektivitas tata kelola dan meningkatkan kesiapan fakultas yang masih berusia muda dalam menghadapi tantangan akademik serta administrasi, (26/2).
Rektor Untag Surabaya – Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., CMA., CPA., dalam sambutannya menegaskan bahwa Fakultas Kedokteran Untag Surabaya, yang baru berdiri pada 12 Desember 2024, menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan akademik, terutama dalam seleksi mahasiswa. “Kami masih dalam tahap awal dalam mengelola fakultas ini, mulai dari seleksi berbasis TOEFL, TPA, psikotes, hingga wawancara. Semua ini menjadi tantangan yang harus kami hadapi. Melalui lokakarya ini, kami berharap dapat memahami dan menyusun sistem tata kelola yang lebih baik,” ujarnya.
Lokakarya ini menghadirkan Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata Semarang – Dr. dr. Gregorius Yoga Panji Asmara, S.H., M.H., CLA., CCD., CMC., sebagai narasumber utama. Dalam paparannya yang berjudul Gagal Mempersiapkan = Siap untuk Gagal?, Dr. dr. Gregorius juga menekankan bahwa tata kelola fakultas harus berlandaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dr. Gregorius juga membagikan pengalamannya dalam mengelola fakultas kedokteran di institusinya. “Setiap kampus memiliki karakter dan tantangan berbeda, sehingga tidak semua metode yang diterapkan di tempat saya bisa langsung diaplikasikan di sini. Namun, prinsip dasar tata kelola yang baik tetap harus dijalankan secara konsisten,” jelasnya.
Dekan Fakultas Kedokteran Untag Surabaya – Dr. Poerwadi, Sp.B, Sp.BA (K), turut berbagi pengalaman mengenai tantangan dalam memimpin fakultas yang baru berdiri. “Memimpin Fakultas Kedokteran adalah amanah besar yang memberikan makna baru dalam perjalanan akademik saya. Salah satu tantangan utama adalah membangun sinergi dengan tim akademik yang terdiri dari para dokter dengan jadwal yang padat. Namun, saya yakin, dengan kerja sama yang solid, Fakultas Kedokteran Untag Surabaya dapat berkembang menjadi institusi yang unggul,” paparnya.
Selain itu, Dr. Gregorius juga menyoroti peran strategis tenaga kependidikan (Tendik) dan laboran dalam menunjang keberlangsungan fakultas. “Laboran bukan sekadar pelengkap, tetapi elemen kunci dalam mendukung pembelajaran dan penelitian. Tanpa tenaga laboratorium yang kompeten, proses akademik tidak akan berjalan optimal. Oleh karena itu, kolaborasi antara dosen, tenaga kependidikan, dan laboran harus terus diperkuat,” tegasnya.
Melalui lokakarya ini, Fakultas Kedokteran Untag Surabaya diharapkan semakin siap menghadapi tantangan di masa depan. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menciptakan sistem tata kelola yang kokoh guna mewujudkan fakultas yang unggul, berbasis nilai, berkarakter bangsa, dan berjiwa patriot. (hn/rz)