Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Maulana Husein Syafri, berhasil menciptakan inovasi briket ramah lingkungan dari limbah ampas kopi dan kulit ari kelapa.
Inovasi ini merupakan solusi cerdas untuk pengelolaan limbah organik dan mendukung pemanfaatan energi terbarukan. “Ide ini berawal dari keprihatinan saya terhadap banyaknya limbah ampas kopi dan kulit ari kelapa yang belum terolah secara optimal,” ungkap Maulana, Sabtu (15/2/2025).
Dalam inovasinya, Maulana mengembangkan briket dengan mencampur ampas kopi dan kulit ari kelapa menggunakan tepung tapioka sebagai perekat. Setelah melalui proses percobaan untuk mendapatkan komposisi ideal, campuran tersebut dicetak menggunakan alat khusus yang dirancang sendiri.
“Setelah mendapatkan komposisi yang tepat, campuran ini dipadatkan menggunakan cetakan khusus untuk menghasilkan briket dengan bentuk yang dapat disesuaikan,” jelasnya.
Alat pencetak briket ini dilengkapi dengan pemanas (heater) untuk mempercepat proses pengeringan, sehingga meningkatkan efisiensi produksi. Desain alat juga dibuat fleksibel, memungkinkan perubahan bentuk cetakan sesuai kebutuhan.
Bahan baku berasal dari limbah ampas kopi Jokopi Indonesia (sekitar 330 kg per bulan) dan limbah kulit ari kelapa dari UMKM Ridho Abadi (240 kg per bulan). Pemilihan sumber limbah ini didasarkan pada kualitas bahan baku yang lebih terjamin dan efisiensi proses pengolahan.
"Saya menggunakan bahan dari coffee shop dan UMKM dengan kualitas yang lebih bersih dan efisien," tutur mahasiswa Program Studi Teknik Industri Untag Surabaya tersebut.
Hasil pengujian menunjukkan briket memiliki daya bakar yang tahan lama, hingga dua jam dan menghasilkan residu abu yang sangat minimal, sekitar 1 persen. Ini jauh lebih rendah dibandingkan briket arang konvensional.
"Briket ini mampu bertahan hingga dua jam saat digunakan dan hanya menghasilkan sekitar satu persen residu abu," papar Maulana. Keunggulan ini menjadikan briket hasil inovasi Maulana sebagai alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Melihat potensi pasar yang menjanjikan, Maulana berencana mengembangkan inovasi ini menjadi sebuah usaha." Saya optimis produk ini memiliki peluang pasar yang menjanjikan dan berencana membuka usaha dalam waktu dekat," ujarnya.
la juga merekomendasikan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis briket ini dengan peningkatan kapasitas produksi untuk memaksimalkan hasil dan keuntungan. "Pemilik UMKM sebaiknya memperbesar kapasitas mesin produksi agar dapat meningkatkan volume produksi dan memaksimalkan hasilnya," saran
Sedangkan Dosen Pembimbing, Heri Murnawan, menambahkan bahwa briket yang biasa terbuat dari batok kelapa kini dapat dikembangkan dengan menambahkan limbah kopi dan serbuk kelapa. Campuran ini untuk meningkatkan kualitas briket sekaligus memanfaatkan limbah yang sering terabaikan.
Selain meningkatkan kualitas, pengembangan briket ini diharapkan dapat menurunkan harga pokok produksi dan meningkatkan keuntungan bagi UMKM. Dengan perhitungan yang tepat, pelaku UMKM bisa lebih mudah mengatur biaya produksi dan memperoleh keuntungan lebih besar dari produk ramah lingkungan ini.
"Kita ingin menghitung, sebenarnya briket berbahan dasar dari batok kelapa, bila dicampur dengan komposisi kopi dan limbah kelapa, itu berapa harga pokok produksinya, dan berapa keuntungan UMKM bila menerapkan hal tersebut," tambahnya.
Inovasi Maulana Husein Syafri ini menjadi bukti nyata komitmen Untag Surabaya dalam mendorong riset dan pengembangan teknologi berkelanjutan. Ia dijadwalkan lulus pada 23 Februari mendatang. [ipl/kun]