Mahasiswa Program Studi (Prodi)
Magister Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya - Mohammad Adji
Romadhon terpilih menjadi salah satu mahasiswa peraih karya menarik terbaik
dengan judul penelitian 'Efektivitas Metode Role Play Untuk Meningkatkan
Perilaku Asertif pada Anak Disleksia'. Calon wisudawan Untag Surabaya tahun
akademik 2023/2024 yang akrab disapa Adji ini mengaku penelitiannya bermula
dari melihat banyaknya fenomena anak Sekolah Dasar (SD) pengidap disleksia yang
sering dianggap kurang asertif karena kesulitan dalam berkomunikasi bahkan tak jarang
dianggap bodoh karena otak mereka kesulitan mengolah informasi data dalam
bentuk tulisan, kata dan bunyi bahasa. Keterbatasan yang dimiliki anak
disleksia ini yang menyebabkan mereka cenderung menarik diri dari lingkungan
yang menjadikan mereka kurang asertif Bloom, dkk (2009) memposisikan perilaku
asertif sebagai jalan tengah antara perilaku agresif dan pasif.
Anak disleksia dengan kekurangan
yang dimiliki, respon yang diberikan anak dengan gangguan disleksia bisa
mengarah pada dua kutub yang berbeda, Adji menggunakan istilah radikal kanan
atau radikal kiri untuk membaginya. "Radikal kanan (agresif) ini cenderung
mendominasi bahkan mengintimidasi rekannya karena berusaha menutupi
kekurangannya sehingga perilaku yang mencul adalah defense mechanism. Sedangkan
radikal kiri cenderung (pasif) atau menarik diri dari lingkungan, bahkan
efeknya adalah menjadi korban bullying. Sehingga dirasa perlu untuk melakukan
intervensi untuk meningkatkan perilaku asertif anak disleksia," papar
Adji.
Melalui penelitian eksperimennya,
Adji berusaha mengusung salah satu metode pembelajaran yang cocok digunakan
anak-anak disleksia untuk meningkatkan perilaku asertif, yakni melalui metode
Role Play atau bermain peran seperti sekolah-sekolahan, dokter-dokteran,
polisi-polisian, atau jual-jualan. Tidak hanya itu, melalui bermain peran
tersebut mereka juga bisa mendramatisasikan tingkah laku dan mimik wajah dalam
mengungkapkan perasaan yang sedang dialami. "Sebenarnya metode ini akan
mengarahkan siswa untuk lebih kreatif dalam menirukan berbagai kegiatan menjadi
dramatis, baik itu ide, situasi, maupun karakter khusus. Sehingga bisa
terbentuk perilaku asertif," kata mahasiswa yang berhasil menyelesaikan
Program Magisternya dalam waktu 1,5 tahun dengan IPK 3,76 ini.
Menggunakan subjek 20 siswa
disleksia ringan di salah satu SD Negeri Surabaya, Adji mengungkapkan dirinya
membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan mulai dari screening awal hingga menyelesaikan
penelitiannya. "Screening awal pra penelitian saya gali data ke sekolah
mengenai anak-anak yang diduga mengalami disleksia atau learning difficulties
(kesulitan belajar spesifik) dengan IQ minimal normal namun prestasi akademik
rendah. Saya juga bekerja sama dengan salah satu biro psikologi untuk
mengadakan tes IQ lagi dan melakukan Screening disteksia dengan mengacu pada
DSM V dari sekian banyak siswa yang memenuhi kriteria penelitian ada 20 siswa
dengan disleksia ringan 8 perempuan 12 laki-laki sebagai subjek,"
lanjutnya.
Dari hasil signifikan, Perilaku
asertif saat pre test (rerata= 11,0) mengalami peningkatan saat post test
(rerata= 25,5). Perilaku asertif siswa sebagian besar meningkat semula berada
pada kategori kurang asertif sebanyak 65% siswa dan setelah diberi perlakuan
metode role play sebanyak 55% siswa meningkat menjadi cukup asertif.
"Perubahannya hanya satu loncatan interval yang semula kurang asertif
menjadi cukup asertif karena untuk merubah perlaku seseorang prosesnya cukup
panjang, sedangkan pertemuan yang saya lakukan hanya sekitar delapan kali
terbagi menjadi satu kali perkenalan dan pemberian materi pengantar, enam kali
intervensi role play dan satu kali psikoedukasi kepada orangtua Saya menyadari bahwa dalam
penelitian ini, mash terdapat banyak kekurangan," terang Adji.
Adji berharap kedepanya
penelitian ini bermanfaat secara teoritis dengan menambah pengetahuan tentang
gangguan belajar spesifik (disleksia) pada anak dan bermanfaat Secara praktis
dapat membantu orang tua, sekolah, dan peneliti selanjutnya dalam menangani
disleksia serta meningkatkan perilaku asertif. sehingga dapat memberikan
kebermanfaatan bagi banyak siswa-siswa disleksia lainnya. “Harapannya juga
pelan-pelan mereka mulai terbiasa mengungkapkan perasaannya dengan asertif,”
ungkapnya. (oy)