Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya kembali mengukir prestasi gemilang di ajang Kejuaraan Nasional UMM Championship Competition 2024. Tiga mahasiswa berhasil meraih penghargaan, yaitu Adiska Putria Nova sebagai Juara 3 Puisi Putri, Moch Rical Farizy sebagai Juara 3 Puisi Putra, dan Moch Magnus Rizqulloh yang meraih Juara Favorit di kategori Art Fotografi.
Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan secara daring oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 11 hingga 24 Desember 2024. Peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia berkompetisi dalam beragam kategori, mulai dari Puisi, Musikali Puisi, Film, Desain Kampanye Sosial, hingga Art Fotografi.
Adiska, Mahasiswa semester 3 asal Lamongan, mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada puisi menjadi alasan utama untuk mengikuti lomba ini. Sebelumnya, Adiska pernah meraih prestasi di ajang Peksimida tingkat Jawa Timur. “Motivasi datang dari ajakan dosen. Latihan vokal dan penghayatan dilakukan meskipun merasa tertekan karena kompetisi nasional cukup besar,” ujarnya. Adiska bersyukur bisa meraih penghargaan ini meskipun awalnya merasa pesimis.
Rical, mahasiswa yang aktif di dunia seni dan bekerja sebagai barista, mencoba ajang ini untuk menyalurkan hobi dan meningkatkan kemampuan. “Persiapan sebenarnya singkat, hanya satu hari karena sibuk di UKM Teater. Meski begitu, hasilnya cukup memuaskan,” kata Rical. Ia menambahkan bahwa konsistensi dan totalitas adalah kunci dalam berkarya.
Magnus, peserta kategori seni fotografi dengan tema "Diantara Dosa dan Harapan", memilih lokasi pemotretan di Pantai Goa, Madura. Ia mengungkapkan tantangan terbesar adalah menemukan lokasi yang ideal serta mempersiapkan properti pendukung. Inspirasi Magnus berasal dari interaksi sehari-hari dengan orang-orang di sekitarnya. “Ngobrol dengan teman-teman dan mendapatkan ide dari cerita mereka, yang kemudian diolah menjadi konsep foto. Prosesnya cukup panjang, mulai dari mencari inspirasi hingga memvisualisasikan ide menjadi sebuah karya,” jelasnya.
Sebagai pengalaman pertama mengikuti kompetisi tingkat nasional, Magnus sempat merasa tidak percaya diri. Namun, dukungan dari dosen dan teman-teman memberikan motivasi untuk tetap mencoba. “Ketika tahu ini lomba nasional, sempat grogi. Tapi dosen terus meyakinkan bahwa pasti bisa, dan mereka juga membantu segala keperluan, termasuk peralatan, biaya, dan tempat,” tambah Magnus. Meskipun tidak meraih posisi juara utama, Magnus sangat bersyukur karena karya pertama di tingkat nasional mendapat apresiasi.
Keberhasilan para mahasiswa ini tidak lepas dari dukungan penuh Untag Surabaya. Universitas memberikan bantuan berupa pembiayaan lomba, dukungan teknis seperti pengambilan video, hingga bimbingan intensif dari dosen. Fasilitas dan motivasi yang diberikan universitas memungkinkan mahasiswa untuk tampil maksimal di kompetisi berskala nasional.
Prestasi ini membuktikan bahwa Untag Surabaya terus berkomitmen mendukung mahasiswanya dalam mengembangkan bakat dan meraih pencapaian membanggakan. Dengan fasilitas dan pembinaan yang memadai, Untag Surabaya berhasil mencetak generasi berprestasi yang mampu membawa nama baik universitas di tingkat nasional. (hn/rz)